Trending

HEC_01 LAMPUNG

HEC_01 LAMPUNG

Rabu, 21 Januari 2015

LIMA TAHAPAN MENGHADAPI KESEDIHAN

Sebagaimana diketahui, hilangnya pesawat AirAsia QZ8501 meninggalkan luka yang cukup mendalam. Tidak hanya keluarga korban, masyarakat di seluruh Indonesia tentu sedikit banyak merasakan luka tersebut.

Terlepas dari tragedi Airasia, kehilangan, apapun bentuknya, tentu menimbulkan kesedihan. Reaksi yang dialami oleh setiap individu juga tidak selalu sama ketika menghadapi kehilangan. Beberapa ahli psikologi kemudian mencoba menjelaskan proses kehilangan yang dialami oleh individu. Salah satu teori yang cukup populer dikemukakan oleh Kubler-Ross. Dijelaskan bahwa proses yang dilalui oleh individu adalah sebagai berikut:

Denial
Mempertimbangkan bahwa kehilangan merupakan suatu hal yang sulit diterima, maka reaksi pertama yang muncul adalah penyangkalan. Pada tahap ini, individu mencoba untuk menghindari kenyataan yang terjadi dengan memunculkan bahwa yang terjadi saat ini hanyalah mimpi. Semua hal yang terjadi, kehilangan yang dirasakan tidaklah terjadi.

Anger
Setelah menyadari bahwa semua hal yang terjadi bukanlah fantasi. Individu kemudian merasa marah. Marah kepada situasi, Tuhan, orang/pihak lain, ataupun marah kepada diri sendiri. Individu akan marah kepada yang dianggap menyebabkan terjadinya kehilangan.

Lima Tahapan dalam Menghadapi Kesedihan
Bargaining
Pada tahap ini, individu akan mencoba melakukan negosiasi agar situasi kembali seperti dulu. Individu akan mencoba melakukan negosiasi kepada ‘dunia’ agar semua yang terjadi dapat ditarik kembali dan kemudian segala sesuatu menjadi seperti sedia kala. Kalimat-kalimat yang umum diutarakan oleh individu pada tahap ini adalah:
“Andaikata kejadian ini bisa ditarik kembali, saya akan melakukan apa aja sebagai balasannya”
“Saya akan mengorbankan semuanya …”

Perlu diketahui bahwa negosiasi tidak akan memberikan dampak apa pun terhadap situasi yang sedang dialami individu. Adapun kemudian, individu akan kembali pada tahap sebelumnya, yaitu marah atau penyangkalan, atau mungkin ke tahap selanjutnya, yaitu depresi.
Depression
Lima Tahapan dalam Menghadapi Kesedihan

Setelah mengalami kehilangan, individu merasa bahwa hidupnya menjadi tidak lagi berarti. Hal-hal apapun menjadi tidak penting lagi bagi individu. Individu menjadi depresi. Individu lebih pendiam, menolak untuk bersosialisasi dan lebih memilih untuk menghabiskan waktu untuk menangis dan bersedih. Merasakan penyesalan dan ketakutan tentang bagaimana menjalani hidup pada tahap ini adalah suatu hal yang wajar. Dijelaskan bahwa memiliki perasaan-perasaan tersebut menunjukkan bahwa individu telah sedikit menerima keadaan yang ada. Ketika individu akhirnya menerima keadaan, maka individu dapat menuju tahap selanjutnya, yaitu:

Acceptance
Lima Tahapan dalam Menghadapi Kesedihan

Pada tahap ini individu dikatakan telah menerima kenyataan dan dapat menerima perasaan kehilangan yang dialaminya. Menerima keadaan berarti merelakan kehilangan dan melanjutkan hidup secara perlahan. Adapun proses menerima kenyataan tersebut terjadi melalui proses yang bertahap.


Satu hal yang perlu diketahui adalah kelima tahapan di atas dapat terjadi secara acak. Dengan kata lain, tahapan yang dilalui dapat berbeda-beda pada setiap individu. Individu dapat berada pada tahap marah tanpa berada pada tahap penyangkalan. Adapun individu lain dapat berada pada tahapan negosiasi dan penyangkalan pada saat yang bersamaan, untuk kemudian akan berada pada tahap marah. Untuk individu yang telah berada pada tahap menerima pun dapat kembali pada tahap marah apabila muncul pemicu spesifik yang mengingatkan individu pada perasaan kehilangan. Perbedaan-perbedaan tersebut terjadi karena pengaruh beberapa hal, seperti keadaan masing-masing individu maupun tersedianya dukungan sosial.

Bentuk-bentuk dukungan sosial dapat berupa: (1) Emotional / esteem support berupa ekspresi empati, peduli dan perhatian yang mengarah pada individu. Dukungan emosional memberikan individu perasaan nyaman, tenang, memiliki, dan dicintai ketika berada dalam situasi tertekan; (2) Tangible assistance atau instrumental support berupa memberi dukungan materi seperti pelayanan, dukungan finansial, barang-barang, meminjamkan uang, atau membantu tugas sehari-hari; (3) Informational support berupa memberikan nasihat, petunjuk, saran, dan masukan mengenai apa yang seharusnya dilakukan oleh individu yang bersangkutan; (4) Companionship support berupa keberadaan seseorang untuk menghabiskan waktu dan memberikan perasaan sebagai bagian dari kelompok tertentu, dimana terdapat kesamaan minat dan kegiatan sosial.

Penelitian menunjukkan bahwa metode yang digunakan individu untuk mengatasi perasaan kehilangan pada dasarnya dipengaruhi oleh lingkungan dan budaya. Namun demikian, hal yang umum dirasakan oleh individu setelah kehilangan adalah perasaan kehilangan kontrol akan dirinya. Oleh karena individu disarankan untuk berperilaku yang membuat dirinya merasa mampu mengontrol hidupnya kembali. Dengan kembalinya kontrol tersebut, maka individu akan lebih memiliki kemampuan untuk mengatasi masalah serta merasa bahagia kembali.

Sumber:
Ardillah, A. Wawancara dengan Psikolog. 6 Mei 2014.
Kromberg, J. 2013. The 5 Stages of Grieving the End of a Relationship. Diambil secara online dari http://www.psychologytoday.com/blog/inside-out/201309/the-5-stages-grieving-the-end-relationship pada tanggal 6 April 2014.
Norton, M.I., & Gino, F. 2014. Rituals Alleviate Grieving for Loved Ones, Lovers, and Lotteries. Journal of Experimental Psychology: General © 2013 American Psychological Association 2014, Vol. 143, No. 1, 266–272
Taylor, S.E. 2003. Health Psychology. 5th Ed. New York: Mc-Graw-Hill.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Designed By Blogger Templates