Bullying mungkin merupakan bentuk agresivitas antarsiswa yang memiliki akibat paling negatif bagi korbannya. Hal tersebut terjadi karena dalam peristiwa bullying terjadi ketidakseimbangan kekuasaan dimana para pelaku memiliki kekuasaan yang lebih besar sehingga korban merasa tidak berdaya untuk melawan mereka.
Hasil dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa korban bullying akan cenderung mengalami berbagai macam gangguan yang meliputi kesejahteraan psikologis yang rendah (low psychological well-being), penyesuaian sosial yang buruk, gangguan psikologis, dan kesehatan yang memburuk (Rigby, dalam Riauskina, Djuwita, dan Soesetio, 2005).
Korban bullying juga bisa mengalami penyesuaian sosial yang buruk sehingga ia terlihat seperti membenci lingkungan sosialnya, enggan ke sekolah, selalu merasa kesepian, dan sering membolos sekolah. Apabila kita melihat lebih jauh lagi, gangguan psikologis rasa cemas berlebihan, selalu merasa takut, depresi, ingin bunuh diri, dan gejala-gejala gangguan stres pasca-trauma (post-traumatic stress disorder) dapat timbul pada korban bullying.
Terganggunya kesehatan fisik juga disebutkan Riauskina, Djuwita, dan Soesetio (2005) sebagai salah satu dampak dari bullying. Contoh yang biasa terjadi adalah sakit kepala, sakit tenggorokan, flu, batuk, bibir pecah-pecah, dan sakit dada. Bagi para korban bullying yang mengalami perilaku agresif langsung mungkin akan mengalami luka-luka pada fisik mereka.
Bullying Menghambat Aktualisasi DiriSeorang psikolog terkemuka bernama Abraham Maslow menyebutkan bahwa manusia termotivasi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya, dari mulai yang paling rendah (bersifat dasar/fisiologis) sampai yang paling tinggi (aktualisasi diri) dengan sebuah ilustrasiPiramida Hirarki Kebutuhan Maslow (Maslow Hierarchy of Needs).
Piramida Maslow menjelaskan bahwa seseorang baru dapat melakukan aktualisasi diri, yaitu keinginan untuk mewujudkan dan mengembangkan potensi diri, apabila orang tersebut telah merasa bahwa kebutuhan fisiologis (seperti makan dan minum), rasa aman, kebutuhan sosial, dan kebutuhan akan harga diri telah terpenuhi dengan baik.
Seorang siswa yang menjadi korban bullying dapat mengalami kesulitan untuk bersosialisasi dengan lingkungannya, selalu merasa ketakutan dan tidak aman, bahkan merasa bahwa dirinya tidak lagi mempunyai harga diri. Dalam kaitannya dengan Teori Maslow, kondisi-kondisi tadi dapat menghambat dirinya untuk mengembangkan potensi-potensi yang ada di dalam diri.
Ada sebuah contoh nyata terkait hal ini yang penulis dapatkan dari seorang siswa. Ia adalah seorang anak yang mempunyai potensi besar dalam bidang sepakbola sehingga ia memutuskan untuk bergabung dalam eskul sepakbola di sekolahnya. Namun, yang terjadi adalah sejak ia bergabung di eskul tersebut, dirinya kerap kali menjadi korban bullying dari kakak-kakak kelas yang juga anggota eskul tersebut. Pada akhirnya, akibat rasa takut dan cemas yang terus menerus melanda dirinya, ia pun kesulitan untuk mengembangkan potensi yang ada di dalam dirinya. Sayang sekali, bukan?
Mencegah Dampak Buruk Bullying
Setelah membaca pemaparan tentang bullying, jelas tidak ada manfaat sedikitpun dari bullying. Walaupun kerap terjadi di lingkungan sekolah, ada hal yang dapat dilakukan seorang siswa untuk menghapus perilaku tersebut. Salah satu cara yang paling mudah adalah dengan tidak menjadi seorang pelaku.
Setelah membaca pemaparan tentang bullying, jelas tidak ada manfaat sedikitpun dari bullying. Walaupun kerap terjadi di lingkungan sekolah, ada hal yang dapat dilakukan seorang siswa untuk menghapus perilaku tersebut. Salah satu cara yang paling mudah adalah dengan tidak menjadi seorang pelaku.
Rasa empati (kemampuan yang tinggi untuk mengalami dan memahami emosi orang lain ) kita terhadap orang lain juga perlu ditingkatkan. Cobalah untuk merasakan emosi yang mungkin dirasakan oleh seseorang yang menjadi korban bullying, dan kemudian bayangkan apabila diri kita sendiri yang menjadi korban bullying. Jelas tidak menyenangkan, bukan?
Peran selanjutnya yang dapat dilakukan adalah menyebarkan informasi mengenai pengertian dan dampak negatif dari bullying kepada orang lain, khususnya sesama siswa sekolah.
Kegiatan-kegiatan yang lebih bermanfaat dan melibatkan interaksi antara siswa baru dengan siswa lama perlu diadakan lebih banyak. Dengan demikian, suatu lingkungan yang menyenangkan dan kondusif untuk belajar akan semakin cepat dan mudah terbentuk.
Sumber yang dipakai:
Hurlock, E.B. (1973). Adolescent Development. Tokyo: McGraw-Hill Kogakusha, LTD.
Jackson, S. & Rodriguez-Tome, H. (1993). Adolescence and Its Social Worlds.
UK: LEA Ltdingin Publishers.
UK: LEA Ltdingin Publishers.
Papalia, Diane E., Olds, Sally W., & Feldman, Ruth D. (2004). Human Development (9th Ed.). New York: McGraw-Hill, Inc.
Riauskina, I. I., Djuwita, R., dan Soesetio, S. R. (2005). ”Gencet-gencetan” di mata siswa/siswi kelas 1 SMA: Naskah kognitif tentang arti, skenario, dan dampak ”gencet-gencetan”. Jurnal Psikologi Sosial, 12 (01), 1 – 13.
http://facultyweb.cortland.edu/~ANDERSMD/MASLOW/EXPLAIN.HTML
http://www.kr.co.id/web/detail.php?sid=190100&actmenu=43
Sumber: http://ruangpsikologi.com/pendidikan/mos-asyik-tanpa-bullying-bagian-2-dampak-bullying-kiat-menghindarinya/#ixzz3PSjsjN8z

Tidak ada komentar:
Posting Komentar